Postingan

Cerpen Misteri/Baur

Gambar
  Ilusi   Aku baru saja ditelepon oleh Ibu. Beliau kata, bersihkan kamar, kurangi tidur. Sudah dua puluh tujuh tahun hidup bersama, ternyata beliau masih saja belum mengerti hobiku hingga sekarang.   Ibuku sedang dalam perjalanan dinas ke luar daerah. Beliau seorang wanita karier yang amat sibuk sampai lupa mati. Selama ini hanya tinggal beliau seorang yang berperan sebagai ibu sekaligus ayahku, sebab suaminya sudah lama jadi mendiang. Ah, lupakan itu!   Hari ini adalah hari uji coba yang ke tiga puluh satu di laboratorium mini di kamarku. Aku baru saja membuat riset baru dengan mencampurkan dua buah larutan ke dalam tabung reaksi. Sekarang aku tinggal menunggu hasilnya. Jika warna larutan dalam tabung itu tetap memerah, berarti percobaanku gagal, tetapi jika memuai, itu artinya harga diri seorang wanita sejati. Untuk sementara dan seterusnya, biar kita sisihkan saja cerita keluarga di awal-awal tadi. Cerita semacam itu cukup ditayangkan di sinetron. Jangan di sin...

Cerpen Horor/Baur

Gambar
     Nyo Teng   Bicara soal takdir, bagi sebagian orang bukanlah sebuah topik yang menyenangkan untuk dibahas secara mendalam. Itu karena takdir kerap dikait-kaitkan dengan sesuatu yang sifatnya religi, baik itu tentang kodrat manusia maupun tentang kemahaluasnya kekuasaan Ilahi.   Takdir selalu tampil di setiap aspek kehidupan yang ada di semesta ini. Elemen penunjangnya adalah waktu, pilihan, dan akibatnya. Ia ibarat sebuah koin yang memiliki dua sisi mata uang, yang keadaannya tengah berputar di atas meja. Setiap putaran itu nantinya akan melambat seiring waktu, berikut pula sebetapa besar hambatan yang dilaluinya dalam setiap gerakannya. Yang akhirnya, takdir akan selalu hadir di saat terakhir dalam bentuk satu kenyataan yang tak bisa terbantahkan, tak bisa dimundurkan, dan tak bisa diulang.   Nyo Teng, namanya. Dia adalah seorang pria. Dia sedang patah hati sekarang. Kekasihnya yang sudah ia pinang setahun lalu, kini, pada hari ini telah diperistri o...

Cerpen Horor/Baur

Gambar
Baur: Kilat Kategori: Cerpen Prioritas: Di Atas 15 Tahun   Dia selalu merasa heran dengan dunia ini. Selama ini dia merasa hanya hidup sebatang kara di bumi ini. Tidak punya orangtua, sanak saudara, teman sebaya, apalagi musuh bebuyutan sepanjang masa.   Yang ia tahu hanya yang terlihat di depan mata. Ia tak pernah tahu apa yang sedang berlangsung di belakangnya. Dan, seringkali ia malah tak tahu apa akan hal-hal yang kemungkinan tengah terjadi di sekitarnya.   Ini fenomena aneh yang sudah lama menyelimutinya. Ia merasa bahwa dirinya hidup dalam lingkup dunia delusi, atau mungkin sihir, atau bisa saja pemikirannya sedang mempermainkan dirinya. Ataukah, mungkin karena dia terlalu cerdas? Ataukah semua ini memang sebuah kenyataan?   Pagi ini, seperti pagi sebelumnya, ia juga berkunjung ke Pasar Kemakmuran. Sebelum berangkat, kemunculannya di depan pintu sudah disapa hangat oleh Pak Irai. Tetangganya. Pria tua itu kelihatannya sedang sibuk menyirami tanaman bonsai di pe...

Cerpen Kehidupan: Janur

Gambar
Mimpi Besar Kategori: Cerpen Prioritas: Di Atas 15 Tahun   Pagi datang. Sinar matahari menyilaukanku, menembus ventilasi di jendela kamarku, membentuk seperti empat batang samurai yang menusuk tepat di daun pintu. Aku bangkit dari pembaringan, lalu kubuka garden yang menutupi kaca jendela, dan di saat itulah mataku terbelalak ketika tampak olehku berpuluh-puluh pohon sakura yang menghias rapi di halaman rumahku. Daun-daunnya yang merah muda jatuh merekah ke tanah. Wah! Aku sedang berada di Jepang!   Langsung saja kubuka daun jendela. Aku ingin melihatnya lebih jelas lagi dan ternyata pemandangan indah itu nyata adanya. Aku masih belum percaya akan semua ini. Kukucek-kucek mataku guna meyakinkan keraguan dalam hati. Dan, benarlah apa yang kulihat kini. Ini sama sekali bukan mimpi. Bukan sekadar tipu-tipu!   Tetapi, tunggu! Biar kuingat-ingat lagi. Rasanya ini tidak nyata! Kemarin aku masih main layangan bersama anak-anak di kampungku, di Kotabaru, Indonesia. Kami main laya...

Cerpen Janur: Laptop

Gambar
 Janur: Laptop Kategori: Cerpen Usia Prioritas Membaca: Di Atas 15 Tahun   Betapa hati tidaklah bersedih ketika sekolah terasa sangat membebani. Bukan hanya aku, seluruh murid di sekolah ini juga pasti merasakan hal sama yang dikarenakan oleh adanya aturan baru yang dikeluarkan pihak sekolah. Katanya aturan ini dibuat oleh Kementrian Pendidikan, tapi rasa-rasanya itu tidak mungkin, sebab aturan baru kali ini benar-benar terasa asing bagi kami sehingga kesannya seperti sengaja dibuat sekarepe dewe.   Kami ini, terutama aku bukanlah anak orang kaya. Memang ada beberapa murid di kelasku yang bisa dikategorikan sebagai orang mampu, tapi, ya, mampu alakadarnyalah. Celana dipensil-pensil, itu hanya kaya biasa, seragam longgar (terutama para siswi) dimodifikasi biar gundukan bokong dan belahan susu bisa terlihat jelas, kepornografian ini masuk dalam kategori kaya rendahan, lalu ada juga anak yang menggunakan ponsel yang bisa dilipat atau digeser-geser, ini baru kaya standar. Kal...